JAKARTA, KOMPAS.com — Sedikitnya 61 ilmuwan Indonesia yang bekerja di sejumlah negara dijadwalkan hadir dalam International Summit Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional, 16-18 Desember 2010 di Kementerian Pendidikan Nasional. Pertemuan itu, antara lain, akan membahas berbagai hal yang bisa disumbangkan mereka untuk Indonesia, termasuk penemuan-penemuan mereka yang sudah mendapatkan hak paten.
”Pertemuan ini merupakan pemikiran out of the box, yaitu keluar dari yang dipikirkan birokrasi atau institusi riset selama ini,” kata Zuhal, Ketua Komisi Inovasi Nasional, Rabu (15/12/2010) di Jakarta.
Menurut Zuhal, sejarah baru untuk memacu inovasi akan terbentuk jika para penemu paten di luar negeri itu menyepakati implementasinya di Indonesia. Kesepakatan itu pun sekaligus akan mendorong Komisi Inovasi Nasional menerobos semua hambatan aplikasi paten yang selama ini dihadapi.
Menurut Zuhal, birokrasi yang mengurusi paten masih berorientasi birokrat. Semestinya penanganan paten itu berorientasi korporat atau perusahaan yang lebih menghargai kecepatan dan ketepatan.
Ketua Panitia International Summit I-4 Willy Sakareza mengatakan, para ilmuwan Indonesia yang berkarya di sejumlah negara tersebut memiliki paten yang siap diaplikasikan di Indonesia sesuai dengan sistem yang ada sekarang. Paten itu antara lain berkaitan dengan teknologi penyimpanan vaksin berpendingin dan teknologi kamera yang mutakhir, paten di bidang kedokteran umum, paten yang berkaitan dengan antraks, serta paten yang berkaitan dengan kanker. (NAW)
sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/16/08554775/Ilmuwan..quot.Pulang.Kampung.quot..dan.Berbagi
Rabu, 15 Desember 2010 | 9:06
[JAKARTA] Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) mencatat ada sekitar 2.500 Ilmuwan Indonesia berada di Luar Negeri. Untuk menginisiasi kolaborasi nyata antar ilmuwan Indonesia di luar negeri maka I-4 mengadakan International Summit 2010 Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional pada 16-18 Desember 2010 di Jakarta. Sedikitnya 61 Ilmuwan Indonesia yang berada di luar negeri hadir dalam pertemuan tersebut.
[JAKARTA] Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) mencatat ada sekitar 2.500 Ilmuwan Indonesia berada di Luar Negeri. Untuk menginisiasi kolaborasi nyata antar ilmuwan Indonesia di luar negeri maka I-4 mengadakan International Summit 2010 Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional pada 16-18 Desember 2010 di Jakarta. Sedikitnya 61 Ilmuwan Indonesia yang berada di luar negeri hadir dalam pertemuan tersebut.
International Summit 2010 I-4 itu bertujuan menginisiasi kolaborasi nyata antar ilmuwan dengan para akademisi, sektor swasta, serta pemerintah Indonesia dalam mengaplikasikan keilmuwan yang dimiliki oleh masing-masing pihak untuk pembangunan Indonesia di berbagai sektor.
Ketua panitia International Summit I-4, Willy Sakareza di Jakarta, Selasa (15/12) mengatakan, diharapkan dengan pertemuan tersebut akan memberikan rekomendasi kebijakan dan kerjasama pengetahuan untuk masa depan Indonesia. Willy mengaku banyak ilmuwan Indonesia melakukan penelitian di luar negeri karena iklim penelitian nasional masih sangat minim.
"Mereka punya pilihan hidup, tapi bila budaya dan fasilitas penelitian di Indonesia sudah tersedia di Indonesia mereka pasti mau kembali ke Indonesia. Selama akses keilmuan mereka masih bisa di akses dan tersalurkan ke Indonesia, tidak masalah mereka bekerja di mana dan untuk siapa," ujarnya.
Kegiatan International Summit I-4 tersebut didukung penuh oleh Komite Inovasi Nasional dan Komite Ekonomi Nasional. Dalam kegiatan tersebut akan dibahas topic-topik keilmuan antara lain kedokteran, bioteknologi, energi, pendidikan, rekayasa industri, ilmu sosial, inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta teknologi dan ketahanan pangan. [D-11]
Jakarta – Puluhan ilmuwan Indonesia di luar negeri yang tergabung dalam wadah Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) merencanakan untuk pulang ke Indonesia bulan Desember ini. Mereka akan bergabung dalam acara International Summit (IS 2010) yang akan digelar 3 hari lagi (pada tanggal 16-18 Desember 2010) di Jakarta.
International Summit 2010 sendiri merupakan acara yang bermaksud untuk mengumpulkan kembali pahlawan-pahlawan intelektual dan cendikiawan potensial Indonesia yang tersebar di seluruh dunia. Untuk apa? Untuk duduk bersama-sama dalam sebuah “forum diskusi” dan mencari solusi permasalahan bangsa sesuai bidangnya masing masing.
Acara yang dimotori oleh organisasi I-4 dan Kementrian Pendidikan Nasional serta didukung pula oleh Indonesia Berprestasi ini akan menghadirkan beberapa ilmuwan Indonesia yang di antaranya adalahProf Dr. Iwan Jaya Aziz dari Cornell University, Prof Dr Ken Soetanto dari Waseda University, Dr. Juliana Sutanto dari ETH Zurich, Dr. Yow – Pin Lim dari Brown University, Dr. Nelson Tansu dari Lehigh University.
Tak ketinggalan pula beberapa ilmuwan lainnya seperti Dr. Deden Rukmana dari Savannah State University, Dr. Darwis Khudori dari Le Havre University, Dr. Khoirul Anwar dari Japan Advanced Institute of Science and Technology, Dr. Irwandi Jaswir dari International Islamic University Malaysia, juga akan meramaikan kegiatan International Summit ini.
Menurut Wakil ketua I-4, Dr. rer. nat Johny Setiawan yang juga salah satu ilmuwan di Max Planck Institute, Germany, mengatakan, acara ini diharapkan dapat menyatukan kembali kekuatan potensi bangsa Indonesia di seluruh dunia untuk bangkit dalam membangun masa depan Indonesia. “Acara ini akan memberikan insipirasi dan harapan kepada generasi muda yang kelak akan melanjutkan pembangunan tanah air tercinta,” kata Johny
Pertemuan International Summit ini sendiri akan terbagi dalam 11 cluster kajian untuk membahas permasalah yang lebih spesifik. Cluster kajian tersebut yakni: Energi, Humaniora dan Ilmu Kemanusiaan, Percepatan Pembangunan Ekonomi, Kedokteran dan Bioteknologi, Informatika dan Elektronika, Teknologi dan Ketahanan Pangan, Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Rekayasa Industri dan Robotika, Pendidikan, Pengembangan Wilayah dan Lingkungan, dan Ilmu Sosial.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Workshop Internasional Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional 2009 di Jakarta yang bersama Kementerian Pendidikan Nasional bertujuan untuk menginisisasi kolaborasi nyata antara ilmuwan Indonesia di luar negeri dengan para akademisi, pengusaha, hingga pemerintah Indonesia dalam pengaplikasian keilmuan yang dimiliki oleh para masing-masing pihak untuk pembangunan Indonesia di berbagai sektor. Acara diskusi kajian yang ada pun akan terbuka untuk umum dan bisa diikuti siapa saja. Diskusi dari 11 cluser kajian ini sendiri akan dilaksanakan pada hari Jumat, 17 Desember 2010, di Kompleks Kementerian Pendidikan Nasional, dari pagi hingga sore hari, demikian informasi yang didapatkan Indonesia Berprestasi dari surat elektronik yang dikirimkan pihak panitia International Summit 2010.
“Masyarakat yang tertarik mengikuti kajian dalam pertemuan ini dapat mendaftarkan diri secara on line melalui website www.is.i-4.or.id”, demikan ujar Sakareza, Koordinator Pelaksana Teknis IS 2010.
Panitia juga mengundang berbagai pihak seperti akademisi, praktisi, pelajar di Indonesia dan luar negeri untuk mengikuti jalannya International Summit tersebut, yang rencananya juga akan dipancarluaskan melalui jaringan Radio Perhimpunan Pelajar Indonesia
sumber : http://indonews.org/international-summit-2010-semangat-kolaborasi-ilmuwan-indonesia-untuk-pembangunan-kongkrit-bangsa/
TEMPO Interaktif, Jakarta - Wakil Presiden Boediono akan membuka International Summit 2010 yang diadakan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional. Menurut www.wapresri.go.id, acara para ilmuwan yang bekerja di luar negeri itu bakal diresmikan Boediono hari ini, Kamis (16/12) pukul 11.00 WIB di Kantor Wakil Presiden.
Selanjutnya, International Summit 2010 berlangsung secara maraton selama tiga hari, yakni hingga Sabtu (18/12) di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional.
Situs resmi pertemuan tersebut, www.is.i-4.or.id, menyebutkan dalam perhelatan itu, ilmuwan Indonesia akan dipertemukan dengan ilmuwan lokal, pengusaha, dan pejabat pemerintah. Tujuannya, untuk membicarakan langkah strategis pembangunan bangsa melalui pengembangan sumber daya manusia.
Lazim diketahui, banyak ilmuwan nusantara yang setelah belajar di luar negeri memutuskan bekerja di sana dan enggan kembali ke tanah air. Pasalnya, mereka merasa tidak memiliki lahan dan kesempatan untuk mengembangkan keilmuannya di Indonesia.
Inilah salah satu alasan pemerintah bekerja sama dengan Ikatan Ilmuwan mengadakan International Summit 2010. Pemerintah ingin ilmuwan Indonesia kembali ke negeri sendiri.
Dalam International Summit, bakal ada sebelas bidang yang dibahas. Yakni, Kedokteran dan Bioteknologi, Energi, Informatics and Electrical Engineering, Pendidikan, Regional Development and Enviroment, Rekayasa Industri dan Robotika, Social Sciences, Humaniora dan Ilmu Kemanusiaan, Percepatan Pembangunan Ekonomi, Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Teknologi dan Ketahanan Pangan.
Pertemuan disiarkan secara langsung alias live-streaming melalui situs web International Summit dan www.radioppidunia.org.
sumber :http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2010/12/16/brk,20101216-299280,id.html
Apa yang dikatakan Nasr tentang keterikatan dan kecintaan ‘tanah air’ terbukti lagi di sini. Bahwa “kamu bisa mencampakkan anak Arab bermil-mil kilometer dari tandus padang pasir sahara, namun kamu tidak akan bisa mencabut dan menarik, walau sebutir, pasir sahara dari hati seorang anak Arab.” (Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam).
Sejumlah besar ilmuwan Indonesia tingkat dunia memutuskan–harapannya pasti sementara–untuk berkarir dan menjalani hidup di luar negeri. Tetapi ternyata, dengan banyak cara mereka tetap bisa memberikan pengabdiannya kepada negeri dan melepaskan diri dari tuduhan tidak loyal dan disersi, seperti yang dilakukan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4).
Apa yang dikatakan Nasr tentang keterikatan dan kecintaan ‘tanah air’ terbukti lagi di sini. Bahwa “kamu bisa mencampakkan anak Arab bermil-mil kilometer dari tandus padang pasir sahara, namun kamu tidak akan bisa mencabut dan menarik, walau sebutir, pasir sahara dari hati seorang anak Arab.” (Seyyed Hossein Nasr, The Heart of Islam).
Sejumlah besar ilmuwan Indonesia tingkat dunia memutuskan–harapannya pasti sementara–untuk berkarir dan menjalani hidup di luar negeri. Tetapi ternyata, dengan banyak cara mereka tetap bisa memberikan pengabdiannya kepada negeri dan melepaskan diri dari tuduhan tidak loyal dan disersi, seperti yang dilakukan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4).
Dari International Summit I-4
Berawal dari ketersentuhan nasionalisme, para ilmuwan Indonesia tingkat dunia yang tinggal di luar negeri, kini telah berhasil menghimpun 800 ilmuwan, meresmikan wadah mereka dengan restu Presiden secara telepati pada November 2009 di Denhaag, Belanda. Baru-baru ini, tepatnya Desember 2010, difasilitasi oleh kementrian pendidikan nasional, 60 orang perwakilan mereka berkumpul di Jakarta untuk merumuskan program-program strategis bagi kemajuan menyeluruh bangsa, yang nantinya mereka operasionalkan secara sinergis dengan para pengambil kebijakan negeri ini. Memakai slogan, “Sejarah Baru Dimulai Di sini” dan Tema “Peta Jalan Kemajuan Sains dan Teknologi Indonesia”.
Para ilmuwan ini mengurai rumusan pemikiran mereka ke dalam 11 isu kluster; Kedokteran dan Teknologi, Percepatan Pembangunan Ekonomi, Energi, Humaniora dan Ilmu Kemanusiaan, Informatika dan Elektronika, Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi, Pendidikan, Ilmu Sosial, Teknologi dan Ketahanan Pangan, Pengembangan Wilayah dan Lingkungan, dan Rekayasa Industri dan Robotika. Kluster-kluster tersebut didesain oleh para pakar di bidangnya dan dirumuskan bersama nara sumber dari tokoh-tokoh ilmuwan dan cendekiawan dalam negeri serta kontributor ide dari ilmuwan-ilmuwan muda dari berbagai perguruan tinggi dalam negeri.
Kualifikasi internasional yang mereka miliki memaksa kita untuk menghargai pertemuan tersebut dan rumusan program yang mereka hasilkan. Sebagai gambaran, di kluster pendidikan misalnya, salah seorang fasilitator adalah Ken Soetanto, ilmuwan Indonesia yang memiliki kisah panjang kesuksesan di negara ikon kemajuan teknologi dunia, Jepang. Beliau adalah pemegang 4 gelar doktor dari berbagai universitas terkemuka Jepang, masing-masing di bidang rekayasa elektronika, kedokteran, farmasi, dan pendidikan. Sekarang menjadi kepala divisi di universitas Waseda–satu-satunya dan orang pertama dari luar Jepang yang diberi jabatan tersebut–dan ikut dalam tim perancang program negara (semacam GBHN) untuk bidang pendidikan Jepang.
Pemegang 31 hak paten penemuan teknologi dan peraih sejumlah award seperti periset terbaik dan puncak di bidangnya, merupakan sebagian saja dari pencapaian Ken Soetanto selama 35 tahun hidupnya di Jepang. Selain beliau, ada Dr Taufik, astronom yang pernah menjabat sebagai direktur Observatorium Bosscha dan namanya telah diabadikan menjadi nama salah satu asteroid (benda angkasa)–selain tiga nama astronom Indonesia lainnya–oleh asosiasi astronom dunia. Demikian gambaran prestasi seluruh ilmuwan dunia yang hadir tersebut.
Dalam merumuskan program mereka tersebut, ikatan ilmuwan ini telah mengundang sejumlah ilmuwan dalam negeri untuk memberikan input tentang kondisi-kondisi riil internal dalam negeri terkait, analisis kebutuhan dan realisasi program. Untuk realisasi program, baik jangka pendek dan jangka panjang, mereka menetapkan misi untuk bersifat terbuka dan berorientasi penguatan kapasitas (capacity building) ilmuwan dalam negeri sampai ke level daerah.
Untuk itu, seluruh kluster memiliki program rekrutmen dalam rangka menghimpun kekuatan dan potensi keilmuan para ilmuwan dalam negeri, misalnya dengan pembuatan jejaring sosial dan mengomunikasikan program dan pikiran-pikiran mereka secara luas di dunia maya. Dalam hal ini, diharapkan para ilmuwan di Sumatera Utara dapat memenuhi undangan ilmuwan tingkat dunia tersebut untuk berinteraksi dengan mereka dan memberikan kontribusi pada level kebijakan nasional dalam rangka mengeluarkan bangsa ini dari krisis stadium ‘lanjut’.
Kluster Humaniora
Pada rekomendasi programnya, seluruh kluster sama menyatakan faktor manusia atau pelaku teknologi sebagai salah satu item masalah yang harus ditangani serius bila kemajuan teknologi dan kesejahteraan kehidupan bangsa hendak diakselerisasi. Ini menginformasikan kerja besar yang diemban para ilmuwan humaniora (ilmu-ilmu sosial-agama-kemanusiaan). Kluster Humaniora dirumuskan berdasarkan analisis krisis kemanusiaan dan karakter keindonesiaan yang melanda rakyat Indonesia, yang secara mekanis menjadi sumber dari keseluruhan problema sosial-politik-ekonomi yang dihadapi bangsa saat ini.
Kondisi internal yang merupakan muara permasalahan bangsa ini adalah terjadinya ketimpangan dan disharmoni antara pembangunan teknologi dan ekonomi dengan pembangunan manusianya sendiri. Pembangunan Indonesia yang seharusnya menjadi upaya dan proses humanisasi sesuai pesan konstitusi malah berbalik menjadi proses de-humanisasi, tidak manusiawi, dan tidak membawa kebaikan lahir-batin serta tidak mengangkat harkat dan martabat rakyat Indonesia. Kunci penyelesaian masalah ini adalah pada upaya integrasi dan pemadu-serapan antara ilmu-ilmu kemanusiaan dan teknologi. Hal ini agar pembangunan teknologi tidak sekedar menghasilkan ‘nilai tambah ekonomi’ dan kemajuan fisik-materi melainkan juga ‘nilai tambah sosial-kultural’. Pembangunan teknologi yang berbasis peradaban manusia akan menghasilkan kesejahteraan yang sejati dan pembentukan sosok manusia yang seutuhnya.
Kerja integrasi dan penyerapan nilai-nilai kemanusiaan tersebut ke dalam seluruh aspek dan lini pengetahuan dan kesadaran anak bangsa tidak bisa tidak harus dilakukan melalui laboratorium pendidikan. Karena itu, kerja kajian humaniora secara esensial diarahkan untuk menyentuh sampai tingkat kurikulum. Termasuk ke dalam gugusan pendidikan ini adalah pengembangan pendidikan dan penelitian terpadu antara humaniora dan IPTEK dalam bentuk kajian interdisciplinary, trans-disciplinary dan cross-disciplinary. Reformasi dan reorientasi pendidikan ini akan memformat penyelenggaraan pengajaran yang tidak memisahkan ilmu dengan nilai-nilai budaya, agama dan kemanusiaan, tidak menggerus karakter manusianya sendiri sebagai subjek pengetahuan, dan melahirkan manusia-manusia yang memiliki moral tanggung jawab sosial.
Pertanyaan mendasar yang muncul adalah apa dan bagaimana sebenarnya sosok kemanusiaan Indonesia yang seutuhnya tersebut, yang hendak menjadi tujuan dari upaya integrasi dan reformasi pendidikan itu sendiri ? Pertanyaan ini sendiri akhirnya menjadi kerja besar selanjutnya dari ilmuwan humaniora. Kluster humaniora mengidentifikasi fenomena kekaburan panduan nilai dan paradigma kemanusiaan Indonesia dalam segala aspek berkehidupan; individu, bermasyarakat dan bernegara. Gejala Lifestyle, keterpecahan kepribadian (split personality) yang menampilkan kepura-puraan dan ketidakberpijakan pada kenyataan, atau kerancuan dan kegersangan psikologis dan spiritual, merupakan pemandangan luas negeri ini. Kita menyaksikan para penguasa justru tidak memiliki kekuasaan sesungguhnya sehingga memerintah dengan kelinglungan dan ketergantungan, ahli hukum menelurkan aturan-aturan yang bukannya membuat teratur tetapi malah mengacaukan, politikus yang seharusnya lihai dan cerdas menggolkan keyakinannya tetapi malah tidak memiliki keyakinan sendiri. Sehingga saling terperangkap dan dijerat oleh standar ganda dan skenario politik mereka sendiri.
Sementara itu, dosen tidak lagi mengajar dengan hati, mahasiswa belajar tidak dengan kebulatan hati dan kegigihan, sampai seorang ibu pun tidak lagi menyuap anaknya dengan ketersentuhan hati. Pengaruh dunia luar yang menggeser nilai-nilai luhur bangsa dan menggoyah sendi-sendi kepribadian bangsa sering dijadikan kambing hitam dan menjadi fokus analisis masalah. Padahal, akar permasalahan yang membuat sendi kepribadian bangsa begitu lemah jelas ada pada masyarakat Indonesia sendiri.
Karena itu, solusi mendasar penyelesaian seluruh problema kemasyarakatan tersebut harus dimulai dengan merumus ulang konsep dan visi kemanusiaan Indonesia. “What does it mean being Indonesian”? Apakah hakikat dan identitas karakter seorang manusia Indonesia ? Ilmuwan humaniora harus mampu menyentuh dan menyelesaikan pertanyaan di tataran filosofis ini dan tidak membuang energi pada bentuk-bentuk kegiatan yang aksidentil dan formal-seremonial. Dalam kerangka ini, pertama-tama kajian humaniora perlu mendudukkan apa yang dimaksud dengan humaniora dalam konteks dan khasanah bangsa Indonesia. Artinya, humaniora harus diredefinisi–kalau humaniora hendak menampilkan diri sebagai paradigma, dengan asumsi dan bahasanya yang nasionalis dan inklusif.
Dalam hal ini, ilmuwan humaniora harus menyamakan visi tentang kedudukan ‘local wisdom’ (kearifan lokal) yang sekarang menjadi hot issue dalam kerja-kerja pembentukan karakter bangsa. Dengan ‘local wisdom’ sebagai jiwanya, maka humaniora dalam khasanah bangsa Indonesia merupakan, “cara pandang yang menempatkan paradigma nilai-nilai keindonesiaan, kebudayaan, kemanusiaan, dan ke-kini-an sebagai elemen yang membentuk karakter bangsa.” Nilai-nilai keindonesiaan berisikan nilai-nilai dasar (fundamental values) yang menjadi landasan berbangsa dan bernegara, seperti Pancasila, UUD 1945, NKRI, Sumpah Pemuda, dan Bhinneka Tunggal Ika. Nilai-nilai kebudayaan adalah kearifan-kearifan lokal Indonesia yang bertitik tolak dari humanisme dan tuntunan agama yang mulia, yang menciptakan harga diri bangsa dan daya tahan terhadap gempuran globalisasi. Adapun nilai-nilai kemanusiaan bermuara pada nilai-nilai intrinsik manusia sebagai makhluk yang mulia, misalnya nilai kesetaraan (equality), keruhaniahan, maupun penghargaan pada diri dan sesama manusia terlepas dari kesukuan, agama, status sosial, dan jenis kelamin.
Nilai-nilai dasar tersebut selanjutnya harus diurai dalam nilai-nilai instrumental (fundamental values) agar dapat menjadi panduan riil dan taktis bagi pembentukan karakter bangsa. Nilai-nilai instrumental ini disimpulkan telah kabur bahkan terkikis dari kesadaran dan pengetahuan hampir seluruh anak negeri ini, apalagi generasi mudanya. Hal ini sehingga terjadi keterputusan kesinambungan dan keterhubungan (missing link) antara nilai-nilai dasar bangsa dengan berbagai program pembangunan yang dilakukan, yang mengakibatkan disorientasi dan kekacauan jatidiri rakyat. Nilai-nilai instrumental tersebut misalnya gotong royong, rasa keterikatan, perhatian dan kepedulian, kepekaan dan sifat berbagi, kemajemukan, tanggungjawab, sifat ketangguhan, kerja keras, musyawarah, dan seterusnya.
Setelah memformulasikan konsep dan paradigma humaniora Indonesia, akhirnya akan dapat dipetakan tujuan kajian humaniora di berbagai lini pendekatan sebagai berikut. Secara epistemologi, kajian humaniora diarahkan untuk memadukan humaniora dengan non-humaniora. Seperti disebut di atas, integrasi ini dilakukan melalui revisi kurikulum dan pemaduan nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, dan keindonesiaan pada bidang non-humaniora. Secara ontologis, kajian humaniora hendak merumuskan karakter bangsa Indonesia. Dan secara aksiologis, nilai-nilai humaniora akan menciptakan bangsa yang sejahtera, adil, dan berperadaban maju, melahirkan anak negeri yang berdaya juang dan berdaya saing, berperspektif masa depan, dan bercitra baik di dunia internasional.
Para ilmuwan Indonesia yang berada diluar negeri pada tanggal 16 hingga 18 Desember 2010 mengadakan hajatan besar dalam Indonesia Summit 2010; Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4). Acara yang dibuka oleh Wakil Presiden RI, Budiono di Istana Wakil Presiden ini menghadirkan ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang berada diluar negeri untuk memberikan masukan dari berbagai bidang untuk kemajuan Indonesia.
Dalam sambutannya, Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Jalal mengatakan, “saat ini ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang berada diluar diluar negeri akan berdiskusi dengan ilmuwan-ilmuwan dalam negeri untuk membahas dan menganalisa situasi serta kondisi Indonesia dan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk kemajuan Indonesia.”
Ada 11 cluster keilmuan seperti kedokteran dan bioteknologi, energy, informatika dan elektroteknik, pendidikan, pengembangan wilayah dan lingkungan, rekayasa industry dan robotika, ilmu sosial, humaniora dan ilmu kemanusiaan, percepatan pembangunan ekonomi, inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta teknologi dan ketahanan pangan.
“Dari hasil diskusi di masing-masing cluster, saya berharap akan bersinergi dengan lmuwan-ilmuwan Indonesia yang ada di dalam negeri dan melakukan kemitraan secara terus menerus agar proses transformasi keilmuwan dapat berlangsung dengan cepat” kata Fasli.
Sekertaris Jenderal I-4, Achmad Adhitya, Ph.D menjelaskan bahwa lahirnya I-4 tak lepas dari keinginan para pelajar yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) yang ada di seluruh dunia untuk mengumpulkan para ilmuwan yang berasal dari Indonesia dalam satu forum untuk bisa saling sharing dan berbagi satu sama lain dengan spirit kebersamaan dan nasionalisme.
“Indonesia Summit 2010 telah berhasil mengundang 62 orang ilmuwan di luar negeri dan sekitar 260-an ilmuwan dalam negeri untuk berdiskusi dalam cluster-cluster” ujar Adhitya yang juga sebagai ketua panitia International Summit 2010.
I-4 bukanlah akhir namun awal dari sejarah, lanjut Adhitya, I-4 akan menjadi forum komunikasi yang intensif dan efektif antara ilmuwan Indonesia yang ada di luar negeri dan dalam negeri untuk membawa Indonesia menjadi negara maju.
Beberapa ilmuwan Indonesia yang hadir di Auditorium Gedung Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia ini adalah Prof Iwan Jaya Aziz dari Cornell University, Prof 4Dr Ken Soetanto dari Waseda University, Prof Juliana Sutanto dari ETH Zurich, Prof Yow Pin Lim dari Brown University, Prof Nelson Tansu dari Lehigh University, Prof Deden Rukmana dari Savannah State University, Prof Darwis Khudori dari Le Havre University, Prof Khoirul Anwar dari Japan Advanced Institute of Science and Technologi dan banyak lagi.
Acara yang dihadiri sekitar 474 undangan ini merupakan ajang ‘pulang kampung’ para ilmuwan Indonesia yang berada siluar negeri untuk membicarakan lengkah strategis pembangunan bangsa untuk mencari titik temu solusi permasalahan di setiap bidang bersama para ilmuwan Indonesia yang ada didalam negeri.
Dr. Nasir Tamara selaku Ketua Umum I-4 mengatakan, “Ada sekitar 2000 orang Indonesia yang berkarir di luar negeri namun saat ini kami baru mengumpukan 850 orang dengan kriteria selain harus berada di luar negeri juga bekerja di perusahaan internasional dan memiliki gelar Ph.D.”
Nasir menambahkan bahwa I-4 akan membuat role map pengetahuan untuk mendukung rencana pemerintah dengan kontribusi keilmuwan dari para ilmuwan Indonesia di luar negeri yang berkolaborasi dengan ilmuwan yang ada di dalam negeri.
“Kalau kepada konsultan asing kita harus membayar, dengan ilmuwan Indonesia pemerintah tidak perlu ada pembayaran. Ini merupakan bentuk sumbangsih anak negeri kepada bangsanya untuk kemajuan bersama” tambah Nasir.
I-4 bekerja sama dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, komite ekonomi nasional, komite inovasi nasional, ahli profesi di bidang keilmuan, universitas negeri dan swasta serta institusi-institusi swasta seperti Kadin, Hipmi, BUMN dan lain sebagainya.
“Sejarah baru dimulai dari sini” ujar Nasir. I-4 merupakan pertemuan awalan dari sebuah komunikasi intensif antar ilmuwan Indonesia baik yang berada di dalam maupun di luar negeri untuk mendorong terciptanya ide-ide baru sebagai sebuah akselerasi pembangunan bangsa.
Sebagai wadah, I-4 memiliki misi untuk mengakomodasi dan mengorganisasikan seluruh potensi ilmuwan Indonesia diseluruh dunia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peningkatan kualitas sumber daya manusia demi kemajuan Indonesia.
Prof Nelson Tansu mengungkapkan bahwa untuk menjadi negara maju tidak butuh waktu 100 tahun, “kita akan buat Indonesia menjadi negara maju dalam kurun 20 tahun” kata Nelson dengan nada optimis.
Nelson mencontohkan negara-negara seperti korea selatan, hongkong dan china. “Indonesia punya potensi untuk menjadi negara maju, untuk tahap awalnya kita akan mencapai standar Singapore sebelum mencapai standar eropa” ujarnya.
Tidak butuh waktu lama untuk menjadi negara maju, lanjut Nelson, kita bisa belajar dari Korea Selatan, Jepang dan Hongkong yang menjadi negara maju dalam kurun 20-25 tahun.
“Mereka adalah masa depan bangsa kita” ujar Fasli mengutip kata Wapres Budiono.
Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengatakan Indonesia butuh tambahan 7.000 doktor baru setiap tahun. Kebutuhan itu bakal dimanfaatkan untuk menggerakkan perguruan tinggi yang kekurangan pengajar.
Kalimat itu diutarakan Mendiknas pada Peresmian International Summit 2010 Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (16/12). Untuk mencapai target tersebut, terang Nuh, pemerintah akan memberikan beasiswa. Pemerintah juga bekerja sama dengan Ikatan Ilmuan Indonesia Internasional (I4).
"Kita itu baru punya 23 ribu doktor, baru 10 persen (dari total dosen di Indonesia). Padahal yang namanya perguruan tinggi itu kan motornya di dosen. Ke depan, kita targetkan paling tidak 20 persen, jadi setiap tahun ada tujuh ribuan doktor baru," tambah Mendiknas.
Nuh menjelaskan program Kemendiknas 2011 adalah program percepatan doktor. Saat ini, perguruan tinggi negeri di Indonesia memiliki 270 ribu dosen. Sekitar 23 ribu di antaranya bergelar doktor, masih kurang sepuluh persen.
Menurut ia, target bisa dicapai dengan beasiswa yang tersedia. Itu baik dari Kemendiknas atau bekerja sama dengan berbagai negara. Diharapkan juga bisa terealisasi dengan bekerja bersama ilmuwan Indonesia di luar negeri.
Soal ilmuwan Indonesia yang enggan kembali ke Tanah Air, menurut ia, pemerintah tidak membedakan tempat. Yang penting, sejauh mana mereka mampu memberikan kontribusi. Misalnya dengan membangun jaringan untuk menciptakan beasiswa. (MI/****)
Anda ingin bergabung dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional. Silahkan kontak kami atau nantikan informasi lebih lengkap mengenai cara bergabung di I-4!
Bagi yang belum sempat mengikuti acara ini, anda bisa membaca presentasi pembicara yang dihadirkan di acara tersebut
The Rise of Scientist in Corporate World
Collaboration & Networking in Research and Education
Strategi Transfer Teknologi dari Lab menuju Industri
Ingin tahu perkembangan I-4 ? Anda bisa membaca Newsletter 3 bulanan I-4!. More Info...