Dr Taruna Ikrar, PhD
KOORDINATOR BENUA AMERIKA IKATAN ILMUWAN INDONESIA INTERNASIONAL; DAN LEADER PROJECT SCIENTIST UNIVERSITY OF CALIFORNIA, SCHOOL OF MEDICINE, IRVINE, USA
Ketika kedokteran regene-ratif menjadi tren di dunia, seperti apa pelayanan kesehatan di Indonesia?Globalisasi akan berdampak pada semua segi kehidupan, termasuk pelayanan kesehatan. Tak ada satu bangsa pun yang dapat berdiri sendiri-negara maju bukan kekecualian. Perubahan identitas dan batas-batas negara-bangsa itu karenanya akan mela-hirkan.sejumlah tantangan baru dalam sektor pelayanan kesehatan di Indonesia.
Tantangan di bidang kesehatan di masa depan itu dipicu oleh kemunculan penyakit-penyakit baru akibat mutasi berbagai jenis virus dan bakteri serta penyakit akibat perubahan lingkungan dan gaya hidup. Globalisasi membuat epidemi penyakit menular gampang melewati batas-batas negara. Penyakit epidemi seperti HIV/AIDS, kolera, SARS, dan simm flu tidak hanya akan menjadi ancaman di daerah tempat asal penyakit tersebut, tetapi juga akan menyebar ke seluruh penjuru dunia menjadi endemi, bahkan pandemi.
Terjadi pula pergeseran dramatis dari penyakit akut ke kronis, akibat perubahan gaya hidup. Perubahan ini ditandai dari kenaikan tingkat morbilitas dan mortalitas penyakit-penyakit tertentu yang bersifat degeneratif, berupa penyakit cardio-cerebro-vascular, diabetes, kanker, dan kelainan degeneratif lainnya. Pergeseran ini menuntut perubahan strategi pelayanan kesehatan dari kuratif (pengobatan) ke pencegahan (preventif), yangdilanjutkan dengan kuratif dan . rehabilitatif.
Pada saat yang sama, ilmu kedokteran terbaru dalam deteksi dan diagnosis penyakit berkembang ke tingkat molekuler dan genetik, setelah rampungnya Human Genome Project pada manusia. Berkat penemuan-penemuan terbaru yang berpusat pada pemahaman patogenesis dan pato-f isiologi, pada masa depan pengobatan yang bakal menjadi tren berada di tingkat genetik-mole-kuler, stem cell (sel batang), dan regenemtive medicine.
Kedokteran regeneratif adalah pelopor kesehatan masa depan dan merevolusi perawatan medis. Bidang ini merupakan buah dari perpaduan teknik jaringan dan multidisiplin ilmu pengetahuan, seperti biologi, biokimia, fisika, dan kimia. Kedokteran regeneratif adalah bidang inter-disipliner yang benar-benar baru, sangat menjanjikan secara nyata, dan realistis dalam mere-generasi kerusakan jaringan serta organ dalam tubuh hidup; melalui teknik-teknik yang merangsang reparasi perbaikan organ atau penyembuhan secara mandiri.
Obat-obat regeneratif akan mengarah pada penciptaan bio-hybrid yang sepenuhnya berasal dari unsur jaringan, dan organ biologis yang dapat menggantikan atau meregenerasi jaringan serta organ yang rusak oleh penyakit, cedera, atau kelainan bawaan. Kedokteran regeneratif bahkan dipercaya oleh para ilmuwan dapat menumbuhkan jaringan dan organ secara in vitro (di laboratorium) dengan aman,serta aman untuk ditransplanta-sikan ke tubuh yang mengalami kelainan.
Teknologi revolusioner ini memiliki potensi untuk mengembangkan terapi penyakit yang sebelumnya mustahil diobati. Contoh berbagai penyakit regeneratif yang sangat sulit diobati itu adalah kanker, diabetes, penyakit jantung, gagal ginjal, osteoporosis dan cedera tulang belakang, serta kebutaan retina. Dengan berkembangnya sistem pengobatan regeneratif, seperti stem cell, terapi fen, dan seterusnya, penyakit-penyakit tersebut akan dapat disembuhkan dengan menggunakan sistem kultur dan transplan-tasi khusus.
Pergeseran-pergeseran dalam aspek kesehatan itu menuntut adanya strategi khusus bagi Indonesia dalam upaya mengayomi, melindungi, dan serta memberikan pelayanan kepada masyarakatnya dalam bidang kesehatan secara komprehensif. Dalam upaya mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa depan, supaya Indonesia tidak tertinggal jauh, dibutuhkan kiat khusus. Seluruh rakyat harus bergerak bersama untuk menemukan strategi dan visi masa depan (blue print) kemajuan sains dan teknologi kedokteran Indonesia.
Beberapa kiat yang bisa menjadi alternatif adalah melakukan kerja sama dan kemitraan dengan negara-negara maju di dunia, yang selanjutnya dijadikan wahana transfer keterampilan, teknologi, dan ilmu pengetahuan terbaru. Kerja sama tersebut dapat berupa pendidikan, peneliti-an, dan pertukaran ilmuwan.
Kiat lainnya adalah membenahi sistem pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya model sistem belajar-mengajar, kurikulum, dan orientasi pendidikan kesehatan serta kedokteran Indonesia. Sudah saatnya pula diterapkan kurikulum pendidikan yang evi-dence-based dan perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran mutakhir, namun berorientasi pada pengembangan kesehatan masyarakat yang berbasis pada keunggulan lokal Indonesia. Muaranya adalah pelayanan kesehatan terhadap masyarakat yang komprehensif atau menyeluruh.
Manajemen pelayanan kesehatan perlu dirombak dari basis kuratif ke preventif. Pergeseran tersebut diikuti oleh perubahan kebijakan pelayanan kesehatan dari tingkat nasional hingga daerah, berupa perbaikan jaminan kesehatan masyarakat, pelayanan dokter, ketersediaan obat-obatan, dan kesiapan rumah sakit di seluruh Indonesia untuk menjadi pelayan atas kebutuhan dan hak pasien, sebagai implementasi hak asasi manusia untuk mendapat pelayanan kesehatan masyarakat yang paripurna di era global.
Jika itu semua bisa terwujud, para pelayan kesehatan di Indonesia akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri pada era globalisasi. Tidak akan ada lagi masyarakat kaya yang berbondong-bondong berobat ke luar negeri. Ketika semua ini terwujud, kita menjadi pemenang dalam pertarungan di era globalisasi sistem pelayanan kesehatan.












