Please login to be able to chat.
LONDON, KOMPAS.com — Dr Yanuar Nugroho, dosen dan peneliti di Manchester Institute of Innovation Research (MIOIR) atau Pusat Informatika Pembangunan Universitas Manchester, Manchester Business School, Universitas Manchester, Inggris, meraih salah satu penghargaan internasional bergengsi di bidang ekonomi dan politik, Hallsworth Fellowship Award, di Inggris. Ia satu-satunya penerima penghargaan tersebut dari kawasan Asia.
Cukup bergengsi di dunia dan menarik minat para peneliti, namun penerimanya harus melakukan penelitian di Universitas Manchester.
-- Yanuar Nugroho
Dalam keterangan persnya di London, Selasa (20/7/2010), Dr Yanuar Nugroho mengatakan, Hallsworth Fellowship Award merupakan skema penghargaan dan pengakuan atas capaian akademik yang dirintis Profesor H M Hallsworth tahun 1944 untuk mengembangkan studi ekonomi-politik. Dikatakannya, penghargaan itu adalah pengakuan dari komunitas akademik atas semua yang dikerjakan selama ini.
"Apa yang saya teliti, saya tulis, saya sampaikan, dan saya bicarakan dalam berbagai kesempatan, termasuk di Indonesia, semoga menjadi inspirasi dan semangat bagi para peneliti Indonesia lainnya," ujar Yanuar.
Menurut dia, pengembangan studi ekonomi-politik berdampak besar pada perkembangan masyarakat karena menyangkut kerja ekonomi, konsekuensi sosial dari aktivitas ekonomi, serta tindakan pemerintah memengaruhi kinerja ekonomi dan struktur institusional dari pemerintah.
"Selama lebih dari dua dasawarsa terakhir ini Hallsworth Fellowship cukup bergengsi di dunia dan menarik minat para peneliti, namun yang menerimanya harus melakukan penelitian di Universitas Manchester," tutur Yanuar.
Kairo - "Ilmuwan Indonesia di luar negeri jangan lupakan Tanah Air." Pernyataan itu dikatakan Hasyim Muzadi dalam acara workshop Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) di Kairo, Mesir.
Mantan Ketua Umum PBNU yang saat ini menjabat sebagai Sekjen ICIS (International Conference Islamic Scholar) itu menambahkan banyak ilmuwan Indonesia atau mahasiswa yang terlalu lama belajar di luar negeri, menjadi hilang ke-Indonesiaan-nya. Yang lama belajar di Arab, jadi lebih Arab dari orang Arab itu sendiri, yang lama belajar di Eropa atau Amerika malah jadi lebih kebarat-baratan daripada orang Barat," kata Hasyim, 12 Juli lalu.
Kuala Lumpur (ANTARA News) - Peneliti Indonesia Dr Irwandi Jaswir, 39 tahun, kembali mengharumkan nama Indonesia di pentas internasional dengan menggondol anugerah tertinggi Best Innovation Awarddalam forum ilmiah World Halal Research Summit 2010, yang berlangsung di Kuala Lumpur Convention Centre.
"World Halal Research Summit (WHRS) merupakan ajang tahunan yang diikuti para peneliti dari seluruh dunia dalam bidang penelitian terkait industri halal.
"Ajang ini diadakan dalam rangkaian Malaysian International Halal Showcase (MIHAS), pameran perdagangan halal terbesar di dunia," kata Irwandi Jaswir di Kuala Lumpur, Kamis.
Tahun ini, WHRS yang diikuti ratusan peneliti dari berbagai negara ini memilih 3 penerima anugerah, termasuk Irwandi.

Workshop Internasional yang diadakan oleh Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) di Kairo pada tanggal 11-12 Juli 2010 dengan tema Sinergi dan Kemitraan Ilmuwan Timur Tengah, Asia Selatan dan Afrika dalam Membangun Indonesia ditujukan untuk dapat memberikan informasi seluas-luasnya tentang I-4 dan mencoba mensosialisasikan agenda-agenda I-4 yang akan dilakukan kedepan.
I-4 Sosialisasi IS di Swiss
Sehubungan dengan rencana pelaksanaan International Summit (IS) yang akan diadakan oleh I-4 pada bulan desember 2010, maka pengurus I-4 baik didalam maupun diluar negeri aktif melakukan sosialisasi tentang I-4 dan International Summit di luar negeri.
Pada hari Senin tanggal 28 juni 2010 diadakan sosialisasi perihal I-4 dan IS di Zurich, Swiss. Acara yang dihadiri oleh masyarakat dan pelajar di Swiss tersebut memberikan kesempatan untuk pengurus I-4 mengenalkan organisasi yang baru berdiri sekitar 5 juli 2009 lalu di Den Haag.
Banyak pertanyaan dari para masyarakat dan pelajar di Swiss perihal I-4 dan IS, yang menunjukan simpati atas usaha membangun komunikasi antar ilmuwan Indonesia di luar negeri dalam setahun terakhir.
Pernyataan tersebut juga terlontar oleh Dimas Surya Al faruq, seorang pelajar doktor di EMPA Swiss untuk bidang material science mengatakan “bahwa usaha untuk membangun komunikasi antar ilmuwan harus dilaksanakan terus, International Summit adalah pintu masuk untuk terus membangun komunikasi tersebut.
Pada kesempatan tersebut pengurus I-4 juga sempat menemui Dr. Juliana Sutanto yang merupakan satu-satunya pengajar di Swiss dan juga group leader di ETH Zurich. Di kesempatan lain juga pengurus I-4 bertemu dengan Prof. Darwis Khudori di Jenewa. Kesemua pertemuan tersebut dilakukan dalam rangka menyosialisasikan International Summit di Jakarta pada Desember 2010 nanti.
Dr Taruna Ikrar, PhD
KOORDINATOR BENUA AMERIKA IKATAN ILMUWAN INDONESIA INTERNASIONAL; DAN LEADER PROJECT SCIENTIST UNIVERSITY OF CALIFORNIA, SCHOOL OF MEDICINE, IRVINE, USA
Ketika kedokteran regene-ratif menjadi tren di dunia, seperti apa pelayanan kesehatan di Indonesia?Globalisasi akan berdampak pada semua segi kehidupan, termasuk pelayanan kesehatan. Tak ada satu bangsa pun yang dapat berdiri sendiri-negara maju bukan kekecualian. Perubahan identitas dan batas-batas negara-bangsa itu karenanya akan mela-hirkan.sejumlah tantangan baru dalam sektor pelayanan kesehatan di Indonesia.
Satu lagi ilmuwan Indonesia diluar negeri menorehkan prestasi yang membanggakan. Dr. Khoirul Anwar, assistant professor di Japan Advanced Institute of Science and Tecnolgy (JAIST) berhasil meraih penghargaan dari IEEE VTC 2010 Spring pada konferensi yang dihadiri kurang lebih 1000 Professor dan Doktor ahli wireless communication dari seluruh dunia. Sebagai informasi bahwa IEEE adalah asosiasi professional terbesar yang bertujuan untuk mendorong peningkatan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk kepentingan masyarakat luas.
Khoirul Anwar yang juga merupakan salah seorang wakil ketua di Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) ini mendapatkan penghargaan dalam kategori best paper yang berjudul “chained turbo equalization for single carried block transmission without guard interval” yang kemudian menjadi paten keduanya di Jepang.
Dalam konferensi yang dihadiri oleh para ahli wireless communication dari seluruh dunia tersebut, berkesimpulan bahwa perlu dikembangkannya teknologi yang ramah lingkungan sehingga kemudian dapat mengurangi kerusakan di bumi.
Dr. Khoirul Anwar juga berharap agar kedepan para ilmuwan di Indonesia mengambil kesempatan untuk bergabung dalam konferensi – konferensi internasional serupa sehingga dapat terus meningkatkan pengetahuan – pengetahuan terbaru tentang teknologi wireless yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat dan bangsa Indonesia.
Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) berencana akan menggelar Workshop Internasional dan Sosialisasi I-4 untuk kawasan Timur-Tengah, Asia Selatan dan Afrika pada bulan Juli mendatang di Cairo – Mesir.
KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Jumlah dosen Indonesia di Malaysia cenderung meningkat seiring bertambahnya jumlah universitas dan fakultas di beberapa negara bagian.
"Ya memang jumlah dosen Indonesia makin laris di Malaysia karena industri pendidikan semakin berkembang, baik jumlah institusi pendidikan maupun fakultasnya," kata Dr Riza Muhida, ketua ILRAM (Indonesian Lecturer and Researcher Association in Malaysia), di Kuala Lumpur, Jumat (7/5/2010) sore.
Dr Ing Suhendra - suaraPembaca
Jakarta - Minggu lalu para negosiator perubahan iklim dari seluruh dunia bertemu di Bonn untuk pertama kalinya sejak konferensi Desember tahun lalu di Kopenhagen. Tujuan dari pertemuan Bonn sejatinya adalah untuk mengambil "pecahan-pecahan" dari pertemuan Denmark yang dianggap banyak pihak telah gagal mencapai kesepakatan ambisius mencegah perubahan iklim dunia.
Target selanjutnya pertemuan Bonn adalah melihat berbagai sisi positif yang masih bisa diambil dan kemudian mengubahnya menjadi kesepakatan global yang lebih mengikat pada konferensi perubahan iklim berikutnya di Cancun Meksiko pada bulan Desember 2010.
Kenyataannya, perdebatan tentang "climate justice" (keadilan iklim) selalu menjadi topik yang hangat. Karena, perbedaan sudut pandang itu pula akhirnya pertemuan di Kopenhagen yang lalu tidak menemui kesepakatan target ambisius untuk mengatasi perubahan iklim bumi.